Kok Bisa?


Kata-kata ini terus tergiang di kepala gw, setelah menonton "The Act of Killing". Yup, film dokumenter yang amat sangat membuka wawasan, tentang apa yang kira-kira terjadi pada saat pembantaian PKI berlangsung di negara ini, setidaknya yang terjadi di salah satu bagian di nusantara ini.

Waktu tau, akan diputar di Indonesia dalam sesi tertutup, gw langsung mendaftar untuk ikut dung. Dan beruntungnya diri gw, kesempatan itu datang. Yippiie

Awalnya sudah dapet bocoran dari media dan testimoni seorang teman yang sudah menonton sebelumnya, tentang betapa mengerikannya film ini. Namun bukan kengerian berdarah-darah yang akan kita temukan dalam film ini. Bukan, percayalah, kalau kamu mengharapkan action macam film The Raid, mending lupakan saja keinginan untuk menontonnya.

Secara keseluruhan film ini amat sangat menghibur, penonton dibuat sulit untuk mengangkat pantat dari kursi selama 159 menit karena takut kehilangan tiap momen berharga yang ada di dalamnya. Tertawa dan tertegun mewarnai saat menontonnya. Dan setelah keluar dari ruangan, gw pun butuh waktu sendiri untuk mencerna pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal.

Kok bisa, Mas Joshua Oppenheim ini membujuk para aktor dan pelaku sejarah tersebut membuka kekejaman yang mereka lakukan dengan bercerita lewat mulutnya sendiri. Gw gak tau tekhnik apa yang membuat mereka begitu mempercayai Mas Josh, tapi apapun itu sungguh menunjukkan kejeniusan dia.

Kok bisa, mereka tahu kalau film yang mereka buat (bukan The Act of Killing melainkan Arsan dan Arminah) bisa membalikan fakta menjadi 360 derajat (eh sama aja dung berarti), maksudnya mereka amat sangat menyadari kalau sampai tenar film ini, masyarakat bisa percaya bahwa mereka yg kejam bukan para PKI yang mereka bunuh. Tapi tetap bersemangat membuat filmnya, dengan maksud menceritakan kebenaran kepada masyarakat.

Kok bisa, seorang yang mengajarkan anaknya untuk minta maaf kepada seekor bebek karena si anak tidak sengaja melukai binatang tersebut; membantai banyak orang di masa jayanya. Kok bisa? Kenyataan ini meruntuhkan apa yang tertanam di otak gw, bahwa tiap penyayang binatang susah untuk menyakiti sesamanya. Hal ini sungguh merontokan pertahanan pikiran gw.

Kok bisa, seorang korban PKI bercerita di depan para pelaku penumpasan dengan riang gembira tanpa beban yang berarti.Seakan-akan itu hanya bagian dari sebuah film yang ia tonton.

Kok bisa mereka dengan bangga menyatakan di sebuah tv nasional rasa lokal, kalau mereka menemukan tekhnik membunuh dengan cepat, efektif dan tidak membuat si korban merasa kesakitan. HEI! Ini kita bicara tentang manusia bukan hewan.

Kok bisa akting2 mereka dalam film Arsan dan Aminah lebih bagus dari akting para pemain sinetron, padahal mereka ga pernah belajar akting. Hei para artis sinetron bangunlah.

Kok bisa ... Kok bisa ... Kok bisaaaa

Namun di tengah super kegalauan akan pertanyaan2 tersebut. Gw mempercayai hal-hal baru. Bahwa sejarah ditulis oleh siapapun yang menang, sejarah ditulis berdasarkan sudut pandang mereka yang menang. Bahwa ketika semua diatasnamakan keyakinan yang dipegang, apapun tidak salah untuk dilakukan. Walaupun mungkin itu berarti harus mengusir hati nurani sendiri. Bahwa manusia bisa punya dua kepribadian dan menggunakannya tanpa beban.

Sungguh film ini dokumenter yang sangat bagus, sayangnya tidak akan diputar di Indonesia secara bebas, padahal justru masyarakat Indonesia lah yang berhak untuk mengetahui kebenarannya.

2 comments:

Ronny Deddy Rondonuwu said...

Memang bisa ditonton di mana aja film ini?

Dria said...

Waktu itu sih di salah satu tempat kebudayaan di Jakarta, huhuhu maaf ga bisa nyebutin namanya.. karena ini aja tertutup banget pemutarannya. Kalau kebetulan dengar soal pemutarannya lagi, nanti dikabarin ya.