Showing posts with label JATENG TRIP. Show all posts
Showing posts with label JATENG TRIP. Show all posts

[JATENG TRIP] Day 4 - Kawah Sikidang dan Telaga Warna

KAWAH SIKIDANG

Turun dari gunung, kami melanjutkan perjalanan kami ke Kawah Sikidang. Begitu sampai di sana, langsung disambut dengan bau belerang. Vian langsung membelikan kami penutup hidung (makasih ya vi). Tanpa babibu langsung dipake sambil berdoa supaya tidak mati pingsan di situ.


Setelah membayar sekitar Rp.6000,- kami mulai memasuki kawah sikidang. Larangan yang harus dipatuhi tidak neko-neko, kami dilarang membuang sampah dan putung rokok di kawah. Ya gila aja sih, kalau ada yang mau buang putung rokok di kawah. Tapi ya yang paling menyeramkan sebenernya, pemandangan di depan kami. Setelah mata dimanjakan di gunung dieng, kami berhadapan dengan tanah tandus lapang yang penuh asap mengepul-ngepul. Berjalan di atas tanahnya pun harus hati-hati, harus nyari yang kering dan bukan yang abu-abu pekat tapi meletup-letup gitu.

~ pokoknya yang kaya gini jangan sampe keiinjek deh ~ 

Kawah Sikidangnya sendiri berada di ujung kompleks, tapi gw ga berani menuju ke sana. Selain ga tahan dengan baunya yang semakin menyengat, kayanya cukup ngeliat dari jauh aja. Toh ga bisa ngeliat juga dengan jelas, kawahnya dipenuhi dengan asap putih mengepul2 marah.

~ vian menuju bibir kawah ~


~ kawah sikidang di depan mata ~

~ gw cukup dari sini ajalah ngeliatnya ~

Tapi sebenernya yang paling menyenangkan dari kawah ini, gw menemukan kuda yang tampaaan sekali. Walaupun temen-temen gw ga mengerti ketampanannya, dan mempertanyakan keadaan jiwa gw karena terus menerus melihat photonya. Tapi ayolah, siapa yang tidak bilang dia cukup tampan :


TELAGA WARNA

Sedikit agak tidak rela meninggalkan  kawah sikadang kuda tampan itu, kami gw kami pun melanjutkan perjalanan ke telaga warna. Waktu mendengar telaga warna, bayangan gw, pasti warna-warni. Seperti legenda cincin raja yang kecemplung dan menghasilkan warna-warni indah. Tapi sejauh mata memandang warnanyaaa hijaaaau terus. Cks. Setelah pulang ke rumah, baru ngecek ternyata ada tipsnya 
Di pintu belakang terdapat sebuah jalan setapak menanjak ke arah salah satu bukit yang memagari telaga. Jalan tanah ini sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati satu orang saja. Tanjakannya memang tidak begitu terjal, namun cukup licin mengingat kawasan Dieng sering dilanda hujan. Beberapa ratus meter mendaki, sampailah di puncak bukit dengan pemandangan yang akan membuat siapa saja terpesona. Di bawah sana, telaga warna terhampar indah dikelilingi oleh rimbunnya hutan. Air di pinggir telaga berwarna ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga. Di ujung sebelah sana, sebuah padang rumput sempit memisahkannya dengan telaga jernih yang ternyata sering disebut Telaga Pengilon atau telaga yang bisa dipakai untuk berkaca. (yogyes)

Tapi yang tidak kalah asik, berjalan mengelilingi telaga ini. Kaya berada di tengah hutan, tapi jalanannya nyaman. Waktu arah balik kembali ke awal, gw sempat tersesat dari rombongan. Selain nyasar ke tempat semedi, juga nyasar ke perkebunan, malah sempat ngobrol sebentar dengan para petani di sana. Yang ternyata mereka mengambil air telaga untuk menyirami tanaman-tanaman tersebut.

~ salah belok di sini ~

RUMAH RUMAH KOSONG

Akhirnya tiba waktunya berpisah dengan dieng. Sebelum kembali ke guesthouse untuk beres-beres dan makan siang. Kami melewati dataran rumah-rumah kosong. Aneh deh, kenapa dikosongin gitu. Iseng nanya, ternyata katanyaa... rumah-rumah itu bekas rumah menanam jamur. Dulu dieng pernah mengekspor jamur ke luar negeri. Karena sesuatu hal yang kemudian menurunkan kualitas jamur, semua jamur yang sudah dikirim, dikembalikan. Tidak bisa bangkit lagi, akhirnya rumah2 tersebut dibiarkan begitu saja. Sendiri dan terlantar. 

[JATENG TRIP] Day 4 - Matahari terbit dan Gunung Dieng

Percayalah, kami bukan mahluk pagi, kami lebih nyaman berteman dengan malam dibanding harus bangun pagi, apalagi subuh-subuh. Tapi hari itu, tidak ada satupun dari kami yang terlambat. Sekitar pukul 4 kami sudah siap untuk berangkat, ditemani udara subuh yang ternyata lebih dingin daripada malam. Padahal gw udah pake baju berlapis-lapis. Sementara temen gw, si Katro, hanya bercelana pendek dengan penutup kepala ya dia embat  pinjam dari Vian dan bersendal jepit. Takjub banget deh liat penampilan dia pagi itu.

Di tengah perjalanan, gw duduk di dalam mobil bersama teman baru kami, si ibu dari Perancis itu. Untuk mengusir rasa bosan, kami pun sedikit mengobrol. Dia bertanya tentang tempat ini dan tempat itu. Dan gw tidak bisa menjawabnya dengan baik. Saat ini gw pengen banget nyumon Pak Tepi guru sejarah gw, atau Vicong yang pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.Gw secara diplomatis berkilah bahwa perjalanan ini untuk menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Ibu itu kemudian berkata dengan lembut ke gw, kalau apa yang gw dan teman-teman gw lakukan sangat baik, karena gw harus mengenal budaya dan sejarah negeri sendiri. Karena kalau tidak, siapa lagi yang akan mengenalnya, masa orang asing lebih kenal. Hohohoho, langsung hati ini menciut. 

Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit, kami pun tiba di tempat pendakian akan dimulai. Turun dari truk, buat gw yang jarang keluar dari Ibukota, langit seakan sudah menyambut kami dengan para bintangnya. Gw belum pernah melihat langit seindah itu. Di Jakarta, ada sih bintang, tapi paling cuma satu dua. Itupun kalau langit lagi cerah banget. Rasanya masih ingin berlama-lama menikmatinya, sampai panggilan untuk memulai perjalanan ke atas, membuyarkan lamunan gw.

Jalannya sangat gelap, dan senter yang kami pakai juga tidak cukup membantu. Agar tidak tersesat, kami pun berbaris satu-satu, mengikuti langkah teman di depan kami. Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan, apalagi orang yang seharian menghabiskan harinya duduk di atas kursi tiba-tiba harus olahraga nanjak-nanjak terus ke atas. Ya ampun Tuhan, paha atas ini pegal banget. Rasanya ingin menyerah saja di tengah jalan, daripada menjadi hambatan buat teman-teman gw yang ada di belakang gw. Tapi hal itu tidak mungkin, yang paling mungkin cuma maju, maju ke depan, mengikuti petunjuk dari teman yang ada di depan. Dan syukurlah, mereka sangat membantu gw untuk bisa naik ke atas dengan mudah.

~ Kami siap menanti kehadiran Sang Matahari ~
~ Teman baru kami yang berada di puncak yg lebih tinggi dari kami ~
~ yeaaaah akhirnya kami berhasil juga naik ke atas ~

Sebenarnya kostum yang dipakai Katro hari ini, membuat gw cukup beruntung. Kenapa? Karena gw punya teman yang ritme jalannya ga jauh beda (baca : lama). Setelah perjalanan yang rasanya lama banget ini, akhirnya bersama dengan Jehan, kami menemukan spot yang cukup menyenangkan. Tidak ramai, cukup untuk kami bertiga menanti kedatangan Sang Matahari. Sementara Vian dan Apri bersama tiga teman baru kami terus berjalan ke atas, mencari tempat pemandangan yang lebih indah.

Gw selalu merasa terpesona dengan matahari terbit maupun terbenam, tapi hari itu gw semakin terpesona. Rasanya tidak bisa berhenti memandangi pemandangan itu. Mengamatinya dengan seksama seakan takut kehilangan momen, berusaha menyimpannya dalam ingatan. Dan sepertinya cukup berhasil, walaupun kejadiannya udah lebih dari setahun, tapi masih bisa gw bayangkan dengan jelas. Perjalanan yang sebelumnya terasa melelahkan, sangat sangat sangat terbayar dengan apa yang tersaji di depan mata kami. Matahari bergerak keluar, membuka layar hitam, menghadirkan pemandangan yang tidak kalah menakjubkan dari proses terbitnya sendiri.


Setelah matahari sepenuhnya hadir di langit, kami memutuskan untuk turun. Apa yang kami lihat, cukup membuat tercengang. Kanan kiri ternyata jurang. Salah sedikit bisa berakibat fatal. Syukurlah kami berada di dalam kegelapan cuma bergerak berdasarkan petunjuk dari teman di depan, tidak perlu takut pada jurang yang ada di kanan kiri kami. Kalau tidak, belum tentu gw sanggup ke atas. Dan sampai di bawah, Tuhan seperti mempersiapkan hadiah karena kami sudah berhasil menemani kedatangan Sang Matahari.

~ hadiah kecil dariNya ~

[JATENG-TRIP] Day 3 ~ Dieng Hari Pertama

Setelah melempar Mogri ke tumpukan batu di Candi Prambanan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Dieng menuju Bougenvil Homestay, tempat kami menginap. Brrr begitu sampai hari sudah sore, udara semakin dingin. Untung ruangan tamu di lantai dua beralaskan karpet, jadi lumayan hangat. Ya, lantai satu dipergunakan Ibu Sunarti dan keluarganya. Sementara lantai dua disewakan untuk tamu yang menginap di sana. Kamar di lantai dua sendiri hanya ada 5, dua di antaranya ada kamar mandi dalam. Semua kamar mandi dilengkapi air panas. Tempat tidurnya sendiri satu doang perkamar, tapi kingsize gitu. Kasian temen2 gw karena harus empet-empetan tidur, sementara gw bisa guling2 sendirian di kamar, karena gw satu2nya cewek di rombongan. Yipppppiiiie. Tapi malamnya, seperti ingin membalas dendam, teman gw memutar tembang jawa yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri.

Oh iya di dekat homestay ada indomaret tapiiiii karena dingin banget udaranya, males banget kalau harus keluar untuk urusan yang ga penting-penting banget.Namun kami tetap harus makan kan? Dan mencari makan malam di kota yang sebelum jam 9 pun sudah hampir setengah gelap gulita gini agak-agak susah gimana gitu. Akhirnya setelah perjuangan menembus udara dingin, nemu juga semacam warung makan. Dan kami pun sedikit kalap membaca menu-menunya. Setelah merenung beberapa menit, akhirnya kami siap memesan INDOMIE. Memang tiada taranya kenikmatan asupan msg yang menghangatkan tubuh di udara yang dingin ini. 

~ pemandangan dieng dari kamar atas guesthouse ~

Salah satu keuntungan tinggal di guesthouse dan bukan di hotel, kesempatan kamu bisa kenalan dengan wisatawan lain lebih terbuka. Seperti di guesthouse tempat kami menginap, ternyata ada 3 tamu asing yang menginap di sana juga, seorang pria bersama ibu dan kekasihnya. Mereka berasal dari Perancis dan sedang dalam perjalanan keliling Indonesia. (Ya olooo, gw aja yang orang Indonesia belum pernah keliling negeri sendiri). Sama seperti kami, mereka juga bermaksud melihat matahari terbit di Dieng. Setelah beberapa percakapan, akhirnya kami sepakat untuk menyewa mobil truk bersama mengantar ke kaki gunung besok subuh. Dengan riang gembira, karena bisa menghemat beberapa ratus ribu, kami segera mengabarkan Ibu Sunarti yang menyewakan trunya dan meminjamkan anaknya untuk menjadi supir dan pemandu kami. Tidak disangka mereka sedang menghangatkan badan di tungku, akhirnya gw dan teman gw pun ikut duduk melingkar mengelilingi tungku, lumayan bisa menghangatkan badan sebentar, menikmati udara dieng yang dingin ini.

------------------
BOUGENVIL HOMESTAY
Jl Raya Dieng RT.01 RW.01 Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara
Phone: +62 81327072112  (Ibu Sunarti)

[JATENG-TRIP] Jogjakarta Day 3 ~ Candi Prambanan

Udah setahun lebih, akhirnya baru sempet nerusin lagi, kisah perjalanan ini. 

Akhirnya tiba juga menyampaikan selamat tinggal ke kota gudeg. Candi Prambanan merupakan tujuan perjalanan akhir sebelum melangkahkan kaki ke Gunung Dieng. Di sini pula, kami berpisah dengan salah seorang teman yang kembali lagi ke Jogjakarta. 

Untuk menghemat waktu perjalanan, kami menyewa mobil lewat hotel tempat kami menginap. Tapi kalau kamu pengen naik bis kota, kamu bisa mengunakan Trans Jogja rute 1A yang akan mengantar kamu ke Terminal Prambanan. Letaknya tidak jauh dari situ, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. 


Candi Prambanan merupakan kompleks candi hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad 9 masehi oleh Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno pada jaman itu. Nah candi ini dipersembahkan untuk Trimutri ~ Brahma Wisnu dan Siwa ~ tiga dewa utama orang hindu. Tapi karena nama asli kompleks candi hindu ini adalah Siwagrha atau Rumah Siwa, Siwa menempati ruangan candi paling besar di kompleks ini. Yang sayangnya tidak bisa kami masuki, karena masih dalam restorasi akibat gempa tahun 2006 dulu. Ratusan candi pratawa di deretan depan kompleks masih tergeletak runtuh belum tegak berdiri lagi. 

~ reruntuhan candi yang belum dibangun kembali ~






alunan musik yang tadinya berisi gamelan jawa, 
berubah jadi lagu2 masa kini yang sedikit merusak mood



Untuk tiket masuk 
Lokal : Dewasa IDR 30.000 Anak-anak IDR 12.500
Foreigner Adult USD 18 Student USD 10 
Jam Buka 06.00 - 17.00
-------------------------
Dan ya, kami sedikit bermain di antara bebatuan ini, maap ya para Dewa...







[JATENG TRIP] Jogjakarta Day 2 | Sekitar Malioboro

Selanjutnya dari Borobudur, masih ada sedikit waktu yang tersisa, kami pun melangkahkan kaki ke keraton Yogyakarta. Tapi amat sangat disayangkan waktu yang tersedia tidak sampai setengah jam, setelah kelar membeli karcis (ya saudara-saudara, kami membeli karcis), ternyata waktu kunjungan sudah habis (berhubung bulan ramadhan, jam tutup dimajukan 1 jam). *BANTINGKARCIS... huhuhuhu, menyebalkan sekali. Harusnya para abdi dalem yang bertugas memberitahu, kalau kami tidak bisa memasuki area museum di keraton.
Adapun jam buka normal : jam 08.00 -14.00 WIB
Tiket masuk : sampai tepas Kaprajuritan Rp.3.000,- sampai Tepas Pariwisata Rp.5.000,-
Buat photo-photo dan ngerekam bayar Rp. 1.000,-
~ Keraton Jogja | maap gelap, segelap hatiku ~

Karena suasana hati sudah buruk, gw memutuskan untuk menyelesaikan wisata hari ini dan berpisah dari rombongan, sementara teman - teman yang lain memutuskan untuk menjalankan rencana berikutnya. Menuju ke Taman Sari dan Sumur Gumuling (foto2 ngerampok dari Jehan). 
Jam Buka biasa : Senin - Minggu, pukul 09.00 -15.30 WIB
Tiket : Domestik Rp. 3.000,- Mancanegara Rp.7.000,- 
~ Taman Sari, tempat pemandian para istri Raja ~
~ Sumur Gumuling, mesjid bawah tanah yang sangat indah ~

Dan gw, tentu saja, mencari makan di sekitaran keraton (sendirian tentunya), sambil menikmati jalan malioboro setelahnya. Beberapa adegan yang cukup menarik di mata gw :

~ kalau ini ada di Jakarta, pasti udah ada yang teriak-teriak minta dirubuhin wkwkwk~
~kadang cinta bisa menyembuhkan lelah ya ^_^ ~

[JATENG TRIP] Jogjakarta Day 2 | Candi Borobudur


~ beberapa sudut dari Borobudur & tentu saja maskot kami tidak lupa foto di depannya ~

Keesokan paginya, di saat tenaga sudah terisi kembali, kami memutuskan untuk kembali menjalankan niat kami untuk berbackpekeran, Menuju ke candi yang merupakan salah satu keajaiban dunia ini, kami menggunakan, jasa angkutan TRANS JOGJA. Berbeda dengan trans solo, trans jogja ini benar-benar terpakai sesuai fungsinya. Dan berbeda juga dengan trans jakarta, trans jogja bisa dibilang lebih canggih, kartu langganannya benar-benar memberikan keuntungan besar pada pemilik kartu.

Rute yang diambil untuk menuju candi borobudur, berangkat dari malioboro, di halte terdekat, naik bis jurusan 3A, berhenti di halte Ahmad Dahlan, lalu ganti bis jalur 2B turun di terminal Jombor. Setelah naik bis 2b, kamu bisa tidur dulu, perjalananya lumayan jauh soalnya.

Di terminal Jombor, kamu cari bis yang ke arah Magelang. Tiketnya sekitar 12 - 20 ribu, tanyain satu2 saja ke keneknya sebelum duduk manis di bis. Turun di terminal Borobudur. Dari situ, kamu jalan kaki saja, tidak terlalu jauh kok. Apalagi banyak turis mancanegara yang juga jalan kaki menuju borobudur. Hitung2 napak tilas juga. Ntah napak tilasin apa.

Harga tiket masuk : Rp.30 ribu rupiah untuk turis lokal, Dan untuk turis manca negara $20 (mahaal ya boo) dan $10 dan Rp.12.500 untuk anak-anak.

Sebelum kamu keliling, sebaiknya mampir sebentar ke pusat informasi untuk mengambil brosur, dan menonton film tentang Borobudur, akan sangat membantu kamu untuk memahami Borobudur (cukup hanya membayar kurang dari duapuluh ribu). Kami memang menggunakan pemandu, tetapi gw berapa kali menghilang. Karena keasikan mengagumi relief - relief di Borobudur, dan akhirnya tertinggal sendirian.


Naik Borobudur sekarang berbeda harus pakai sarung batik booo, tapi jangan khawatir  gratis kook. Cukup dipakai sebelum memasuki area candi dan dilepas ketika akan meninggalkan area candi. Sayang candi Borobudur, sejak gempa Jogja tahun 2006 masih ada beberapa area yang belum selesai direstorasi. Jadi ada  1 lantai yang tidak bisa dimasuki sama sekali. Huhuhuhuhu.. Semoga restorasinya cepat selesai ya.

[JATENG TRIP] Jogjakarta Day 1

~ bye-bye um Slamet Riyadi ~

Dari Solo, kami berangkat langsung ke Jogjakarta dengan menggunakan taksi. Uhuuuu, siapa bilang kami ini backpakeran, wkwkwkw. Niat awal memang mau menggunakan kereta pramex yang paling akhir, tapi tukang taksinya nawarin untuk nganterin langsung ke tempat penginapan di Jogja. Biayanya tidak jauh dengan yang akan kami keluarkan jika kami ke Jogja menggunakan kereta. Selain itu sekalian juga untuk mengejar jam buka puasa. Jadi tawaran tersebut kami terima dengan senang hati.

Meregangkan Otot-Otot Tulang Belakang

~ Family Room ~

Di Jogja, kami menginap di Bhinneka Hotel, dekat sekali dengan stasiun tugu dan malioboro, letaknya di belokan kedua setelah kamu menyebrang dari jalur kereta api. Strategis banget deh. Harga kamar cukup terjangkau untuk kami, karena kamar bisa dimasuki semua anggota rombongan kami. Kamarnya lumayan bersih, dapet sarapan untuk 3 orang (yang makan cuma  gw dan ronny :D, hohohohoho, karena yang lain puasa). Mungkin yang agak menganggu, ac di dalam kamar diset dengan menggunakan timer, jadi kami harus beberapa kali memanggil room service. Kan kasian petugas hotelnya :(. Harus naik turun terus.

Untuk harga normal, kamar bisa disewa dengan  harga  :
  • Kamar ekonomi Rp.175.000,-
  • Kamar standard Rp.225.000,-
  • Kamar eksekutif Rp.375.000,-
  • Ekstra bed Rp. 75.000,-
Untuk lebih jelasnya mungkin kamu bisa langsung menghubungi Bhinneka Hotel di 0274-513 353.

Kopi Joss Yang Bukan Dari Ekstra Joss *lempar kerupuk
~ merapatkan sesuatu yang amat sangat penting ~

Setelah menaruh tas di kamar, kami memutuskan untuk main di Angkringan Lik Man. Memang masih kepagian sih, tapi ga apa2 lah, demi kenyamanan untuk dapet tempat duduk yang strategis. Kan ga lucu, kalau pengen jadi anak nongkrong Jogja malah kehabisan tempat duduk.

Ngumpul-ngumpul di angkringan tentu harus ditemani sama yang namanya kopi Joss. Kopi Joss ini sebenernya, kopi tubruk biasaa yang dicemplungin sama arang. Iya arang, kamu ga salah baca kok. Arang bukan batu es. Kalau kata Jebraw MBDC sih, orang Jogja pinter banget, nemuin inovasi ini, sehingga bisa membuat kopi jadi tetap hangat. Kalau buat gw sih sensasi yang ditinggal di lidah, kaya agak2 pedes gitu, apa karena arangnya kecium ma gw mulu kalau mau minum ya. Wkwkwkwk.

[JATENG TRIP] Dua Keraton Yang Berbeda Rasa

Di Solo, ada dua objek wisata yang sangat penting, setidaknya di dalam perjalanan ini, cukup meninggalkan kesan yang mendalam untuk kami. Solo seperti yang sudah diketahui bersama memiliki 2 keraton; Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta.

Perjalanan diawali dengan naik becak, dari jalan Slamet Riyadi, tepat setelah kami mengunjungi Gramedia (jauh2 liburan, larinya ke Gramed juga). Karena pundak benar2 terasa mau copot, membawa beban tas yang ternyata tidak cocok dengan kondisi badan yang biasanya menghabiskan waktu lebih dari 12 jam duduk manis di depan komputer. Well, gw ga tau biaya sebenarnya berapa, tapi kami membayar sepuluh ribu rupiah perbecak.

Bicara sedikit tentang sejarah. Oke ini memang ga sedikit, siapkan kopi ya supaya tidak mengantuk. 

Anyway, sebenarnya sangat menarik, untuk mengetahui sejarah kenapa sampai ada dua keraton di dalam satu kota.

Semua bermula ketika VOC, mendesak Sunan Pakubuwana II untuk membayar hutang perang keraton kepada Belanda dengan menyewakan daerah pesisir dengan sewa sekitar 20 ribu real. Hal ini ditentang habis2an, oleh Pangeran Mangkubumi yang merupakan adik sekaligus perdana menteri dari Sunan Pakubuwana II. Pertengkaran pun tidak bisa dihindari, Baron van Imhoff, yang saat itu merupakan Gubernur Jendral VOC, menghina Pangeran Mangkubumi di depan umum.

Tidak terima dihina, Pangeran Mangkubumi bergabung dengan tim pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyawa, yang tidak lain adalah keponakan dari Pangeran Mangkubumi dan Sunan Pakubuwana II. Sebelum Sunan Pakubuwana II meninggal dunia pada tahun 1749, Kasunanan Surakarta menyerahkan kedaulatannya secara penuh kepada VOC, akibatnya VOC-lah yang berhak melantik seluruh raja di Jawa. Dan ketika akhirnya beliau meninggal dunia, anaknya diangkat oleh VOC menjadi Sunan Pakubuwana III. Pada saat yang sama, di daerah yang lain, Pangeran Mangkubumi juga mengangkat dirinya menjadi Sunan Pakubuwana III. Yup ada 2 orang Sunan Pakubuwana III, yang satu disebut Susuhanan Surakarta (pewaris asli) dan yang satu lagi disebut Susuhunan Kebanaran (tempat Mangkubumi berjuang).  Tapi untuk mudahnya mari tetap kita sebut Pangeran Mangkubumi dan Sunan Pakubuwana III saja.

Pemberontakan terus berlangsung, Mangkubumi dan Sambernyawa berkali-kali berusaha mengusir Pakubuwana III dari keraton, namun usaha selalu gagal, tentu saja karena VOC melindungi Pakubuwana dari serangan pemberontak.

Sekitar tahun 1752 muncul pergesekan antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa; keduanya menginginkan supremasi tunggal untuk Mataram, dan keduanya ingin menjadi pemimpinnya. Pangeran Sambernyawa mendapat dukungan penuh dari golongan elite Jawa. Tidak terima atas kekalahan ini, Pangeran Mangkubumi berbalik mendukung ke VOC (galau banget pangeran yang satu ini), dan VOC tentu saja menyambut gembira hal tersebut.

Maka diadakanlah perjanjian yang kita kenal dengan perjanjian Giyanti yang digelar pada tanggal 13 Februari 1755 . Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi 2 : wilayah sebelah timur kali Opak untuk Sunan Pakubuwana III yang merupakan pewaris takhta asli dan wilayah sebelah barat diberikan ke Pangeran Mangkubumi,  yang kemudian kita kenal dengan Yogyakarta nantinya. Pangeran Mangkubumi kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono ke 1. Namun yang paling lucu dan buat gw susah ditrima nalar, pada akhirnya Pangeran Mangkubumi menyetujui VOC menyewa daerah persisisran dengan biaya sewa 10 ribu real per Sultan. Tepok jidat, bukannya ini yang jadi pokok awal pemberontakan Pangeran Mangkubumi? Anyway, kemudian Pangeran Mangkubumi mendirikan kraton Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya. Jadi sekarang ada 2 kraton, tapi masih tetap cuma ada 1 kraton di Solo.

Mari kita lanjutkan critanya, setelah perjanjian Giyanti, Pangeran Sambernyawa menjadi musuh bersama; ketika didesak untuk berdamai. Pangeran Sambernyawa meminta agar Mataram dibagi menjadi 3 kekuasaan. VOC yang sudah lelah dengan peperangan yang tidak kunjung usai, ikut mendesak Sultan Hamengkubuwono dan Sunan Pakubuwana untuk mengabulkan permintaan Pangeran Sambernyawa. Lewat Perjanjian Salatiga, pada 17 Maret 1757, Mataram dibagi menjadi 3 kekuasaan. Dan Pangeran Sambernyawa menjadi penguasa di Kadipaten Mangkunegaran, dengan gelar Mangkunegaran I. Dalam perjanjian ini ditegaskan bahwa Pangeran Sambernyawa tidak bisa memakai gelar Sunan/Sultan, dan hanya berhak menyandang gelar Pangeran Adipati.

Sejak saat  itu Solo memiliki dua keraton, keraton pertama tempat tinggal Sunan Pakubuwana, Keraton Surakarta Hadiningrat ; dan keraton tempat Adipati Mangkunegaran tinggal, Pura Mangkunagaran.

Pura Mangkunagaran, Kraton rasa Eropa

tampak depan Pura Mangkunagaran | photo by wikipedia

Keraton yang pertama kali kami kunjungi, adalah Pura Mangkunagaran. Disambut para petugas yang sangat ramah, bahkan memperbolehkan kami untuk menaruh tas ransel kami yang sangat berat di pundak ini. Hal ini sungguh-sungguh membantu kami menikmati keindahan keraton dengan bebas.
Buka setiap hari dari pukul 09.00 - 14.00 WIB, kecuali hari minggu tutup jam satu siang.
Untuk tiket masuk cukup membayar Rp.10.000,- dan Rp.18.000,- , dan uang serelanya untuk tiap guide yang menemani.
Kraton Mangkunagaran, walaupun dibangun dengan konsep jawa klasik namun sangat kental dengan nuansa eropanya. Hal tersebut sudah terasa ketika kita menginjakan kaki yang telanjang ke atas pendopo. Langit-langit pendopo dihiasi gambar-gambar zodiak :). Dan hal yang pertama kali kami lakukan tentu saja mencari zodiak2 yang kami miliki. Sayang, kamera handphoneku tidak bisa menangkap gambar-gambarnya.

~ beberapa patung hadiah dari negara-negara tetangga (photo by Jehan) ~

Di belakang pendopo ada ruangan yang diberi nama Pringgitan, ruangan ini sebenarnya ruang tidur pengantin kerajaan. Namun sekarang digunakan sebagai museum utama di Pura Mangkunagaran. Di ruangan ini para pengunjung tidak diijinkan untuk mengambil foto, katanya sih percuma saja, fotonya juga tidak akan jadi. Tapi menurut gw, mungkin lebih untuk faktor keamanan, karena di museum ini, dipajang perhiasan-perhiasan dan mahkota milik keluarga kerajaan.

Ada satu benda yang sangat menarik perhatian gw, bukan-bukan gembok kelamin milik raja dan ratu, tapi cap kerajaan yang digunakan di jempol kaki. Untuk menunjukan ketidaksukaan terhadap Belanda, langkah yang diambil Adipati Mangkunagaran ini sangat jenius, kalau Belanda memerlukan cap kerajaan, mereka harus menunduk saat Adipati menstempel di atas dokumen. :), jenius kan.

Dari pringgitan, kami diajak berjalan memasuki daerah tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Rasanya seperti berada di villa mewah di film-film kuno. Ada 2 tempat yang sangat gw sukai, ruang rapat dan ruang makan para putri. Tempatnya mewah, tapi terasa akrab dan nyaman.

ruang rapat keluarga kerajaan ~ photo by wikipedia

~ ruang-ruangan yang ada di Mangkunegaran ~

Tapi mungkin warisan yang paling beharga untuk rakyat Indonesia, adalah perpustakaan yang didirikan Mangkunegaran IV, di mana kita masih bisa menemukan koleksi manuskrip yg ditulis di atas kulit, buku-buku berbahasa jawa dan koleksi foto2 bersejarah negeri ini.

Kraton Surakarta Hadiningrat yang dipenuhi aura mistis 


~ Gapura Gladak Kraton Surakarta | sumber : wikipedia ~

Kalau di Pura Mangkunegaran, tiap benda dan bangunan yang ada di dalamnya amat sangat terawat, dan siap dipakai kapan saja. Tidak demikian yang dirasa di Kraton Surakarta. Kesan seperti ditinggalkan dan hanya menjadi objek museum agak membekas di hati. Moga-moga cuma gw yang merasakan itu. 
Tapiiii aura mistis ketika kaki menyentuh pasir dari pantai selatan yang sengaja didatangkan ke situ benar-benar terasa. Ditemani desiran angin yang lewat pohon-pohon sawo kecik; membawa kedamaian yang aneh. Tunggu-tunggu kenapa pasir bisa kena kaki gw? Karena untuk menghormati tradisi tempat ini,  ada beberapa aturan yang harus ditaati dan salah satunya tiap pengunjung yang memakai sandal harus  melepas sendalnya dan bertelanjang kaki. Gw pake sepatu sih, tapi agak males kalau sepatunya harus kena2 pasir.  

Aturan - aturan lainnya : pengunjung tidak diperbolehkan untuk memakai celana pendek, kacamata hitam, dan baju tanpa lengan. Jadi kalau kamu berminat ke Kraton Surakarta, sebaiknya dresscodenya diperhatikan ya :) .

Sebelum masuk ke daerah2 berpasir tersebut, kami masuk dari Gapura Gladak yang terletak di sebelah utara keraton. Gapura ini di"jaga" oleh dua arca Dwarapala yang memegang gada. Dari situ masuk ke dalam museum yang berisi photo-photo, benda-benda pusaka dan diorama diorama kesenian rakyat. Dari koleksi museum ada yang menarik perhatian gw, dan membuat gw terpana.

~ aneh kan aneh kan ~

Berbeda dengan pelayanan di Pura Mangkunagaran, pelayanan di kraton terasa lebih dingin. Pemandunya pun sepertinya kurang antusias dalam memberikan penjelasan, hmmm mungkin pemandunya sudah lelah juga, karena kami datang menjelang tutup ^_^.

Kalau kamu tertarik ke sana, letaknya dekat sekali  dengan Mesjid Agung dan alun-alun utara, kamu cukup berjalan kaki saja. Jam buka keraton :

  • Senin - Kamis pukul 09.00 - 14.00
  • Sabtu - Minggu pukul 09.00 -13.00

Harga tiketnya untuk museum Rp.8.000,- untuk bangsal Pagelaran Rp. 2.500,- . Oh iya untuk kamera dan video Rp.3.500,- harus bayar lagi. Ribet yaa >< .